Tak sengaja ketika hari ini saya sedang merapikan file-file dalam laptop lama saya, perhatian saya tertuju pada photo-photo “honeymoon” saya 3 tahun lalu. Perjalanan yang dilakukan 7 bulan sejak pernikahan saya, tepatnya tanggal 24-25 Desember 2005, saya dan istri bersama 5 orang teman saya melakukan perjalanan ke desa Sawarna, sebuah desa kecil yang terletak di kecamatan Bayah, kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Peta Sawarna (Sumber : http://www.fallingrain.com)
Rencana awal, akan lebih dari 20 orang teman kantor yang tergabung dalam organisasi pecinta alam kantor yang akan ikut dalam perjalanan ini. Namun mendekati waktu keberangkatan, banyak yang akhirnya mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Walaupun jumlah pesertanya menciut tajam, kami tetap melaksanakan rencana kami menuju Sawarna. Bus yang sudah di booking pun di batalkan. Karena jumlah pesertanya hanya 7 orang (ditambah 1 orang bayi berumur sekitar 8 bulan), kami akhirnya menggunakan mobil Kijang LSX tahun 2003.
Jarak dari Sawarna dengan Jakarta sekitar 260 km, kami tempuh dalam waktu sekitar 5-6 jam dengan melalui rute : Jakarta – Tomang – Tol Merak – Serang – Pandeglang – Malingping – Bayah – Sawarna. Memasuki kota Malingping, pemandangan indah pun mulai tampak. Pemandangan pesisir pantai di sebelah kiri jalan dipadu dengan sawah pertanian yang menghijau di sebelah kanan jalan. Memasuki desa Bayah, pemandangan pun berganti dengan pemandangan hutan tropis.
Jalanan yang tadinya lumayan rata berganti dengan jalan lumpur bergelombang dan jalan berbatu yang membuat badan kita tak bisa diam. Namun karena suspensi mobil Kijang yang cukup baik, getaran jalan yang bergelombangpun tak terlalu terasa, padahal saya dan istri duduk di kursi paling belakang. Setelah melewati jalur hutan, terlihat pemandangan pantai putih kembali terhampar diselingi pohon-pohon nyiur yang tumbuh melengkung seolah memberikan salam hangat kepada kita. Konon, kondisi sulitnya transportasi dan payahnya sarana jalan menuju ke sana inilah yang ternyata membuat banyak wisatawan mengurungkan niatnya mengunjungi Sawarna. Kami tiba di sana sekitar pukul 4 sore.
Kami akan menginap di rumah salah satu sesepuh desa tersebut (namanya pak Hudaya) yang memang biasanya disewakan kepada para wisatawan. Selesai beristirahat sebentar, kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyaksikan matahari tenggelam di pinggir pantai Tanjung Layar. Tak henti-hentinya kami mengagungkan sang Pencipta menyaksikan keindahan alam ini.
Sawarna selain memiliki pemandangan pantai yang indah, juga memiliki banyak obyek wisata gua. Kami pun menyempatkan untuk memasuki salah satu gua di sekitar pantai Tanjung Layar. Gua yang kami masuki pertama kali adalah gua Langir. Karena hari sudah mulai gelap, kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri petualangan hari itu untuk beristirahat di rumah pak Hudaya. Kondisi penginapan rumah pak Hudaya cukup bagus, ada 3 kamar yang cukup besar yang letaknya di lantai 2. Menurut pak Hudaya, justru banyak wisatawan mancanegara pecinta olahraga surfing yang sering menginap di sana. Pada bulan-bulan tertentu, ombak di sini cukup tinggi dan panjang yang sangat bagus untuk olahraga surfing. Tampaknya cerita pak Hudaya ada benarnya, karena saya menemukan beberapa majalah surfing terbitan luar negeri yang tertinggal di kamar. Setelah berbincang sambil makan malam, kami pun memutuskan untuk beristirahat karena tidak ingin melewatkan matahari terbit. Keesokan harinya, petualangan dilanjutkan dengan menuju pantai Ciantir. Disana kami menyaksikan matahari terbit serta kegiatan para nelayan yang baru kembali dari melaut.
Setelah makan siang, kami melanjutkan petualangan wisata gua, kali ini gua yang kami masuki adalah Gua Lalay, salah satu Gua Karst (batu gamping) di desa Sawarna. Menurut sejarahnya, terjadinya Gua Lalay bermula dari adanya retakan pada batu gamping akibat pengaruh getaran tektonik. Retakan tersebut selanjutnya berfungsi sebagai jalan air yang melarutkan batu gamping sesuai dengan sifat fisiknya yang mudah larut dalam air. Air yang melarutkan batu gamping tersebut selanjutnya mengendap dan menghasilkan berbagai ornamen gua. Bagian dasar gua ini merupakan sungai bawah tanah yang berlumpur dengan ketebalan 10 sampai 15 cm. Panjang gua diperkirakan sampai 1000 meter.
Di atas gua ini banyak sekali kelelawar yang hinggap, oleh karenanya gua ini disebut Gua Lalay. Dalam bahasa sunda, Lalay artinya Kelelawar. Perjalanan ke dalam Gua Lalay kami hentikan hingga sekitar kedalaman 200 meter karena kondisi udara yang makin sedikit. Dari Gua Lalay kami melanjutkan petualangan kembali menuju Gua Lawuk. Perjalanan dari Gua Lalay menuju Gua Lawuk melewati sungai Cisawarna yang dilanjutkan dengan mengendarai mobil Kijang. Gua Lawuk lebih sulit dicapai karena posisinya yang agak tinggi di pinggir bukit. Disini kamipun dibuat kagum dengan keindahan stalaktit yang terbentuk dari tetesan air yang mengenai batuan gamping.
Perjalanan ke Gua Lawuk merupakan perjalanan terakhir kami di desa Sawarna, karena kami kembali ke penginapan pak Hudaya untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Sungguh, pengalaman di desa Sawarna yang memiliki banyak keindahan alam yang masih murni merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Semoga, pemerintah setempat akan segera memperbaiki sarana dan prasarana menuju dan di desa Sawarna tersebut sehingga intan tersebut akan bersinar kemilaunya.












Selamat kembali menulis
Thx udah mampir ya Mas.
Sama-sama mas…memang sudah gatel pingin nulis lagi..:-)
Pantai Sawarna (Ciatir) Emang TOP Bro…intan yang Terpendam dan belum terasah dengan maksimal..
keren banget!
kalo mau kesawarna lagi datang ajah. jalannya udah diperbaiki men.enak sekarang mah
Nice report.
Salam kenal dari Cikarang
sayang sekali masih diperbolehkan menyentuh stalaktit. pdhl itu bisa merusak.